sejarah al-quran di zaman Utsman bin Affan

Sejarah Kodifikasi Al-Quran

Al-Qur’an merupakan kitab suci bagi ummat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang kekal terjaga hingga hari kiamat. Sekaligus menjadi mukjizat atas risalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ada sejarah panjang mulai dari diturunkannya hingga tuntasnya kodifikasi (pembukuan) Al-Quran.

Terjaga dari segala upaya pengubahan hingga detik ini lewat lisan & hati ulama dan para penghafal Al-Qur’an. Al-Quran merupakan pedoman hidup dan petunjuk yang tiada keraguan padanya.

Al-Quran sendiri merupakan kalamullah (ucapan Allah) yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melalui perantara malaikat Jibril alaihis salam. Setelah disampaikan kepada Nabi dan beliau langsung menghafalnya, Al-Quran ditransferkan kepada para sahabat radhiyallahu anhum.

Sejak saat itu juga, Al-Quran mulai dibukukan lewat lembaran-lembaran catatan. Catatan ini masih terpisah-pisah di berbagai media penulisan, baik di pelepah kurma, kulit binatang, kertas dsb.

Hingga akhirnya, kodifikasi Al-Quran sempurna dalam satu bentuk mushaf Al-Quran yang kita ketahui sekarang. Bagaimana sejarah Al-Quran beserta kodifikasinya ? Simak artikel ini hingga tuntas ya.

Sejarah Penurunan Al-Quran

sejarah penurunan al-quran
pinterest.com

Al-Quran untuk pertama kalinya diwahyukan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau sedang melakukan tahannuts di gua Hira’. Saat itu juga Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam resmi diangkat sebagai Rasulullah yang diutus untuk seluruh ummat manusia hingga akhir jaman.

Selama masa nubuwwah (kenabian) wahyu turun kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam secara bertahap dan berangsur. 

Kurang lebih selama 23 tahun masa kenabian, Al-Quran Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Turunnya wahyu sesuai dengan berbagai peristiwa dan asbab yang terjadi saat itu.

Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat, Al-Quran telah sempurna diturunkan seluruhnya. Sebagaimana yang tersebut dalam surat Al-Maidah ayat 3 :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmatKu untuk kalian dan Aku ridho Islam sebagai agama kalian.”

Lalu bagaimana Al-Quran ini sampai kepada kita dalam bentuk mushaf seperti yang kita lihat sekarang ini ? Ini yang disebut dengan kodifikasi atau pembukuan Al-Quran.

Sejarah Kodifikasi Al-Quran

sejarah kodifikasi al-quran
republika.co.id

Merujuk pada KBBI, istilah kodifikasi memiliki pengertian yang mengacu pada makna penghimpunan dan penyusunan kitab perundang-undangan. Dalam istilah bahasa Arabnya biasa disebut dengan تدوين (tadwin) atau pembukuan.

Dalam sejarahnya, Al-Quran melewati fase-fase kodifikasi yang bertahap mulai dari jaman Nabi dan berlanjut di jaman para khalifah sepeninggal beliau.

Al-Quran pada Jaman Rasulullah saw

Sejarah Al-Quran pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak terlepas dari peran para sahabat penghafalnya. Ketika turun satu wahyu kepada Nabi, beliau menyampaikannya kepada para sahabat beliau. Kemudian mereka menghafal dan mencatatnya.

Terdapat banyak sahabat yang menjadi pencatat wahyu, yang paling terkenal adalah:

  • Ali bin Abi Thalib
  • Zaid bin Tsabit
  • Ubay bin Ka’ab
  • Utsman bin Affan

Mereka menuliskan Al-Quran di berbagai media seperti kulit, lempengan tulang, kain, pelepah kurma dll. Tiap turun ayat, Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan mendiktekan ayat ini ditaruhkan di surat ini, posisi ini dst.

Sejarah Kodifikasi Al-Quran pada Zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq

Pada masa kekhilafahan Abu Bakar radhiyallahu anhu, terjadi peristiwa Perang Yamamah. Dalam peristiwa ini terbunuh 70 sahabat para penghafal Al-Quran yang kala itu disebut dengan Qurra’.

Melihat kejadian ini, Umar bin Khathab khawatir akan hilangnya Al-Quran dari dada para sahabat dengan terbunuhnya para qurra’. Beliaupun mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menghimpun seluruh Al-Quran secara lengkap dalam satu kitab.

Khalifah Abu Bakar mengiyakan usulan ini dan melimpahkannya kepada Zaid bin Tsabit selaku penghafal dan pencatat wahyu di zaman Nabi.

Berkumpullah 12 sahabat pencatat wahyu guna menyatukan catatan dan hafalan yang mereka miliki. Setiap orang harus mendatangkan 2 saksi dari ayat yang pernah mereka dengar langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Lewat perkumpulan para qurra’ ini menghasilkan satu kitab Al-Quran yang kemudian disebut dengan mushaf. Naskah lengkap ini kemudian dibacakan di hadapan para sahabat dan tidak ada yang mengingkari sesuatu pun darinya.

Artinya naskah ini telah lulus uji keontetikannya dan kemudian menjadi masterpiece pertama  mushaf Al-Quran yang disimpan oleh Umar bin Khattab.

Mushaf Al-Quran di Zaman Utsman bin Affan

sejarah al-quran di zaman Utsman bin Affan
unsplash.com/anis-coquelet

unsplash.com

Ketika perang Armenia, terjadi perbedaan dan perselisihan cara membaca Al-Quran antara muslimin Iraq dan Syam. Berangkat dari kejadian itu, Khalifah Utsman membentuk panitia untuk menciptakan solusinya.

Panitia ini terdiri di antaranya adalah Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash, Abdullah bin Harits bin Hisyam. Mereka semua adalah orang Quraisy kecuali Zaid bin Tsabit.

Utsman radhiyallahu anhu memerintahkan untuk menyalin dari mushaf masterpiece yang sebelumnya disimpan oleh Umar bin Khattab. Sepeninggal beliau, mushaf ini dipegang oleh putri beliau Hafshah.

Seperti kita ketahui bahwa Al-Quran diturunkan dengan 7 lahjah (logat) Arab, yaitu: Quraisy, Hudzail, Yaman, Tamim, Thayyi’, Tsaqif, Hawazin. Salinan yang dilakukan oleh Utsman adalah untuk menghimpun 7 qira’at tadi dalam satu bentuk penulisan.

Oleh karena itu, hingga sekarang kita kenal dengan sebutan mushaf dengan Rasm Utsmani (Penulisan Utsman). Bisa kita lihat di mushaf Al-Quran yang dibeli di Haromain ketika umroh misalnya.

Dari satu naskah milik Hafshah tadi, Utsman radhiyallahu anhu memerintahkan untuk menyalin ke beberapa mushaf. Setelah lolos tes dihadapan para sahabat yang lain dan telah disetujui, mushaf-mushaf ini dikirimkan ke beberapa daerah.

Setelah mushaf Utsman jadi, semua lembaran atau catatan Al-Quran yang ada selainnya diperintahkan untuk dibakar agar tidak lagi menimbulkan perselisihan cara baca dan tulisnya.

Singkat cerita, itulah sejarah kodifikasi Al-Quran yang dilakukan dalam beberapa tahap. Terakhir di zaman Utsman telah dibakukan cara penulisan Al-Quran yang berlaku hingga kini.

Wallahu a’lam bish shawab.

5/5 - (1 vote)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *